Rumah bambu

Pada sore seperti biasa, senja yang biasa, suasana biasa, ia duduk di halaman rumah, di kursi yang terbuat dari bambu, sebatang rokok di tangannya tinggal separuh. Namun ada yang tak biasa dari suasana batinnya, matanya sayu, fikirannya terbang, entah pada masa di menit yang keberapa. Ia menanggalkan segala dengus nadi, membuang sejuta birahi yang terus menguntit hidupnya, berharap dengan surutnya senja, segala yang tersisa ikut menyurut.

Tak ada yang ingin jadi orang pinggiran, apalagi hidup di pinggir jurang nista, aku memikul segala sendiri, tanpa keluarga, tanpa anak-anak, tak ada lelaki yang bersedia mempunyai anak dariku, ia hadir hanya untuk tersedu, dan menumpahkannya diluar pintu, ia hanya menumpahkan segala birahi pada tubuhku.

Kesendirian itu seperti sudah tertulis di usia senjanya. kemana dulu lelaki yang hadir, ia tak pernah datang kembali, ia hadir tanpa cinta, tak tahu balas budi. Batinnya bergumam.

Nyonya rina masih belum beranjak dari duduk di halaman rumah, asap rokok yang keluar dari mulutnya semakin tebal, senja mulai surut, adzan magrib mulai berkumandang, nyonya rina semakin tak sanggup berhadapan dengan masa lalunya sendiri, ia menyudahi ingatannya, memejamkan mata, dihanyatinya setiap kalimat adzan yang terdengar syahdu. ia tersenyum hambar sepertinya tuhan ikut serta dalam setiap penghayatannya.

Tak seperti rumah – rumah di sekitar yang berdiri dengan tembok kokoh, dan minimalis, rumah nyonya rina terbuat dari bambu, bergaya klasik, dan sedikit miring dan berjarak cukup jauh dari tetangganya. Seolah menegaskan kesendirian yang sudah digariskan.

Aku sering mendatangi rumahnya, nyonya rina senang sekali jika aku bertamu kerumahnya, ia menyambutnya dengan senyum, tentu dengan senyum yang berbeda dari senyum-senyum yang dulu ketika menyambut pria berkantong tebal, ia membuatkan kopi hitam, ia sudah tahu kesukaanku, aku menawarkannya rokok, ia mengambilnya, meski tubuhnya sudah renta namun ia menikmati setiap hisapannya, itu bisa terlihat dari bola matanya yang kelabu, mata yang selalu mengelak jika ingin kutelusuri jejak masa lalunya.

Jaga baik – baik hidupmu Den, jangan sampai terjerumus, jangan sampai menyesal di masa tua. Kalimat sederhana, yang patut diresapi maknanya. Kau tahu den, aku menghabiskan masa muda dengan sia – sia, aku menawarkan kenikmatan pada banyak orang dengan harga murah, menanggalkan harga diri hanya untuk kenikmatan dunia, kini aku menyesali semuanya, aku baru menyadari harga tinggi yang mereka tawarkan tak menolong apa – apa, tak menolong siapa – siapa, termasuk masa tuaku, apalagi kehidupanku kelak di akhirat. Ujarnya dengan tersenyum, dan mata berkaca – kaca, ia seperti menahan air matanya, dan terhalang kepulan asap rokok yang tebal.

Kini nyonya rina tetap bertahan hidup di rumah bambunya, ia hanya bertahan hidup dari bantuan tetangga sekitar, tak banyak yang tau masa lalunya, yang orang lain tahu ia tak punya keluarga, tak ada keluarga yang bisa menerimanya. Rumah bambu dan tubuh renta serta sebatang kara melahirkan empati dari tetangga sekitar, tapi tak akan pernah bisa menyelamatkan pergulatan batinnya dengan masa lalu. Nyonya rina kerap kali berdzikir berharap ampunan tuhan, karena hanya itu amalan ibadah yang ia tahu. Bukankah Tuhan Maha segala, termasuk memaafkan hal – hal yang tak bisa dimaafkan manusia.

Advertisements

Hujan

Seperti hujan siang hari yang mewarnai kebersamaan kita hari ini. Kita berteduh di emperan toko yang sedang tutup, aku menatap wajahmu, seperti sedang gigil. Tapi aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku sendiri tak membawa jaket untukku pinjamkan padamu, aku hanya mengenakan kaos. Saat seperti ini aku ingin menunjukkan keromantisanku padamu.

Hujan semakin deras, aku semakin tak bisa berbuat sesuatu, tubuhku kedinginan begitupun kamu. Aku bisa melihat dari gerakan bibirmu. Aku bingung. apakah aku harus memelukmu, atau mencium bibirmu. Bagaimana jika nanti kamu menolak, dan bilang kita bukan muhrim. Bisa salah tingkah aku.

Hujan beralih gerimis, aku menanyakan sesuatu padamu.

“Apakah mau melanjutkan perjalanan?”

“Terserah kamu mas” jawabnya

“Ini masih gerimis, aku takut kamu sakit”

“Tidak apa – apa, aku tak pernah sakit karena hujan, tapi terserah sih”.

Aku semakin bimbang, antara meneruskan perjalanan atau tetap berteduh, bagaimanapun kata terserah nya perempuan itu multi tafsir. Sulit di terka, ia hadir dengan segala tanda tanya. Yang jika salah mengambil sikap bisa fatal akibatnya, perempuan – perempuan.

Aku menggenggam tangannya dengan gugup, ia tak menolak, atau barangkali tak enak hati yang mau menolak genggamanku, semoga ini bisa sedikit meredakan dinginmu. Aku juga merasakan kehangatan, yang sulit aku jelaskan dengan kata, ini tak akan aku lupa meski sementara.

Kau tahu hujan ini bonus alam untuk kita, tapi kau tak bisa menafsirkan keinginan alam untuk kita. Atau barangkali aku yang terlalu pengecut, yang tak berani memulai.

Sayangku, jika kelak kau menemukan hujan yang seperti ini tanpa aku. jangan lupakan aku. Tersenyumlah sembari mengingat, aku pernah menggenggam tanganmu erat.

Kota Ini Dibangun Dari Luka.

Sepulang sekolah aku selalu mencari kesempatan untuk bisa pulang bersamamu, dea. Mulai dari saat dea berangkat sekolah jalan kaki aku juga ikut berangkat bersama. Aku bangun, mandi dan bersiap pagi – pagi sekali untuk menjemputmu dan mengajakmu berangkat sekolah bersama. Hingga kau bisa bersepeda ke sekolah. Saat itulah kau berangkat ke sekolah bersama teman-temanmu.

Hanya untuk bisa bersamamu dan setara dengan pergaulan teman – teman kita, aku merengek di depan orang tuaku untuk dibelikan sepeda. Sebuah permintaan yang sulit untuk keluarga kami, ibu ingin anaknya bisa bersanding setara dengan teman – teman, permintaanku dikabulkan.

Melewati jalanan desa yang becek, dan bergelombang tidaklah mudah, infrastruktur di desa kami sangat terbatas, barangkali karena tempatnya terlalu pelosok sehingga kurang menjadi perhatian pemerintah.

Kelak aku harus menjadi jawaban atas segala permasalahan pelik di desaku. Mulai dari kemiskinan, akses yang kurang, hingga banyaknya kriminal yang terjadi desaku. Gumamku dalam hati, sembari mengayuh sepeda perlahan ke hulu kepuncak jantungmu. 

Ketika kami naik kelas V aku duduk sebangku dengan dea, siswi berprestasi di kelas. Dea selalu mendapat rengking pertama di kelas, selain cerdas dea juga cantik. Berbanding terbalik denganku, setiap ujian sekolah aku selalu memasang target asal naik kelas. Jangankan mendapat rengking, naik kelas saja sudah alhamdulillah sampai amin berlipat – lipat.

Ketika sebangku aku tampak canggung, minder, bahkan sampai jantungku berdebar melampaui batas normal. Sedangkan dea terasa santai dan cuek. Sesekali dea menatap ke arahku yang mulai tadi memperhatikannya menulis. Ia tersenyum. Gila !!!. Senyumnya syarat makna, aku tak bisa menafsirkan senyumnya. Antara ia suka duduk sebangku denganku atau merasa ilfil, entahlah.

Saat – saat ulangan sekolah, aku diam – diam menconteknya, sesegera mungkin dea menutup jawabannya dengan buku.

Dasar pelit. “Ujarku”.

Makanya belajar, dan minum ale -ale. “Balasnya”.

Dari peristiwa duduk sebangku itulah aria dan dea mulai dekat. Dea selalu menyelamatkan aria dari beban ujian sekolah. Mulai dari memberi contekan, hingga menjadi teman bicara yang baik. Ajakan belajar bersama dari aria pun di iakan sama dea. “Modus”.

Hingga pada kenikan kelas VI, aku dan dea mulai berpisah kelas. Siswa yang berprestasi di masukkan pada kelas A dan yang tidak berprestasi dimasukkan pada kelas B. Jelas aku tak bisa sebangku lagi. Dasar ganteng saja ternyata tak cukup untuk selalu bersanding dengan siswi yang cantik, butuh kecerdasan juga.

Pada suatu waktu, siang itu langit mendung dan gelap kemudian hujan deras di sertai petir yang menyambar keras, tepat pada saat ujian matematika. Aku sangat takut, resah dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku menghadap ke kiri dan kanan semua tampak tak peduli. Entah fenomena alam apa yang akan terjadi, disertai aku tak tahu apa yang harus aku jawab di kertas jawaban. Saat seperti ini aku butuh dea, aku butuh senyumannya untuk menerangi keadaan terlebih aku butuh contekannya atau jawaban dari perasaanku.

Waktu berlalu cepat, kita beranjak dewasa, aku masih sering menghubungi dea, menanyakan kabar, sedang apa dan semacamnya. Ingin sekali aku mengutarakan perasaanku yang tak sempat ku utarakan dulu ketika masih di sekolah dasar.

Kini dea menjadi mahasiswi di salah satu universitas ternama dikota, begitu juga aku menjadi mahasiswa di sebelahnya. Kita masih sering bertemu, kita semakin dekat, tentu dengan kedekatan yang berbeda dengan dulu.

Sampai pada suatu waktu aku mengajaknya jalan, di sebuah sungai besar, pemandangannya indah, setidaknya keindahannya sedikit mengurangi rasa gugupku.

Pertemuan ini semacam reuni kecil, yang melibatkan rasa yang kerlap – kerlip dan mimpi panjang yang berlipat, yang barangkali tak berlaku padamu. Temu yang tak sekedar memamerkan kekinian, prestasi dan keberhasilan tapi juga luka, kecewa dan berbagai kekhilafan. Apalagi hendak memperbaiki masa depan, menaggung rasa ini aku nyaris tak sanggup.

Suara gemerincik air sungai dan pohon kelapa menghadirkan suasana haru yang menyaru dalam setiap helai nafasku, aku semakin tak sanggup menatap matamu, apalagi saat kau sunggingkan senyum manismu, rasanya aku ingin mati disitu, dimatamu.

Hari itu kau menyudahi semuanya, menyudahi kisah kita, menepis perasaanku dengan berbagai argumen. entah engkau berpegang pada madzhab apa dalam mencintai, apakah refrensimu soal cinta adalah film – film religi, soal halalkan atau tinggalkan, soal kemapanan dan kesalehan lelaki. 

Mata kita saling berbenturan, air matamu pecah, pecahannya mengenai tepat di relung hatiku, dengan terbata-bata kau mengucap maaf, aku hanya bisa membalas dengan senyum. Senyum dengan luka berdarah – darah. Aku mengerti keputusanmu. Dengan segala pergaulanmu di kampus, dengan berbagai macam mimpi yang ditawarkan, tentu aku bukan pilihan yang tepat.

Dunia ini seperti panggung teater yang mementaskan kisah cinta yang berakhir antiklimaks, berharap luka ini menjadikanku sebagai pribadi yang beriman dan semakin baik.

Kisah ini mengajarkanku pada kemajuan – kemajuan, dunia bergerak dinamis. Aku belajar banyak hal darimu de, meski luka. semua ini akan menjadi semangat baru yang bermakna.

Waktu berlalu, aria dan dea menjalani kehidupan masing – masing, ia nyaris sampai pada puncak perjalanannya. De menjadi akademisi di kampusnya, dan aria kini aktif di partai politik, keduanya masih sering terlibat di diskusi – diskusi ilmiah yang diadakan ormas.

Pada sebuah pemilu aria mencalonkan sebagai kepala daerah yang didukung parpol pemenang pemilu, dan berhasil memenangkan kompetisi. Kini aria menjadi kepala daerah yang disegani, tentu saja dengan dukungan parpol, pencitraan dan media. Sorot camera sering tertuju padanya.

Tentu aria tidak lupa pada mimpi – mimpinya, pada luka lama dan berbagai hal yang suram dimasa lalu. Tentang janjinya membangun infrastruktur hinggal pelosok. akan aku bangun kota ini dengan keringat, pengetahuan, dan luka lama. gumamnya dalam hati. Sembari fikirannya mengingat dea. Bagaimanapun terkadang keberhasilan bisa saja berangkat dari luka, dan ingin menunjukkan aku sudah bangkit.

Kota ini mulai beranjak maju, masyarakatnya mulai sadar lingkungan, taman kota yang bersih, bunga indah berseliweran di sepanjang jalan, jembatan penghubung antar desa mulai dibangun, dan penataan kota semakin baik. Kau tahu de, bunga – bunga di sepanjang jalan kota itu untuk kamu, yang ketika muda dulu tak sempat menghadiahimu mawar. ini untuk kemaslahatan masyarakat, tentu saja diam – diam juga untuk dea. aria seperti ingin menunjukkan inilah aku.

Nada – nada sumbang tentu saja belum berakhir, kritikan, nyirnyiran dan juga dukungan tetap berseliweran di media. Hingga pada suatu pagi, saat teh hangat diatas meja kerja baru dihidangkan aria membaca koran pagi, disitu sudah ada artikel kritikan tentang penataan kota dari dea. Namun kritikan itu hanya tanggapi sengan senyum, dan tatapan kosong.